Teks Negosiasi: Tujuan, Unsur, Struktur, Ciri-Ciri, dan Contohnya

Teks Negosiasi: Tujuan, Unsur, Struktur, Ciri-Ciri, dan Contohnya

Teks negosiasi adalah teks yang berisi proses tawar-menawar antara dua pihak atau lebih untuk mencapai kesepakatan bersama.

Teks Negosiasi biasanya digunakan dalam situasi bisnis, politik, sosial, atau budaya.

Teks negosiasi memiliki tujuan untuk memenuhi kepentingan masing-masing pihak, mengatasi perbedaan pendapat, dan menyelesaikan masalah secara damai.

Tujuan teks negosiasi

Teks negosiasi memiliki beberapa tujuan, antara lain:

  • Untuk mencapai kesepakatan yang dapat diterima oleh kedua belah pihak yang sedang melakukan negosiasi.
  • Untuk mengatasi perselisihan atau sengketa pendapat dalam proses negosiasi.
  • Untuk memperoleh sesuatu hal dari pihak lain yang tidak dapat dipaksakan.
  • Untuk menyelesaikan atau menyesuaikan perbedaan yang ada.
  • Untuk melakukan interaksi sosial antar manusia yang memiliki kepentingan dan persepsi berbeda.

Unsur teks negosiasi

Teks negosiasi terdiri dari beberapa unsur, antara lain:

  • Pihak-pihak yang terlibat: Teks negosiasi melibatkan dua pihak atau lebih yang memiliki kepentingan dan tujuan yang berbeda atau bertentangan.
  • Masalah yang diselesaikan: Teks negosiasi memuat masalah yang menjadi pokok perbedaan atau perselisihan antara pihak-pihak yang terlibat.
  • Argumen atau alasan: Teks negosiasi memuat argumen atau alasan yang mendukung posisi atau tawaran masing-masing pihak.
  • Bukti atau data: Teks negosiasi memuat bukti atau data yang relevan dan valid untuk memperkuat argumen atau alasan masing-masing pihak.
  • Strategi atau taktik: Teks negosiasi memuat strategi atau taktik yang digunakan oleh masing-masing pihak untuk mencapai kesepakatan, seperti memberi konsesi, kompromi, atau alternatif.
  • Kesepakatan atau perjanjian: Teks negosiasi memuat kesepakatan atau perjanjian yang dicapai oleh pihak-pihak yang terlibat sebagai hasil akhir dari proses negosiasi.

Struktur Teks Negosiasi

Teks negosiasi terdiri dari tiga bagian utama, yaitu:

Orientasi

Bagian ini berisi pengenalan tentang latar belakang, konteks, dan pihak-pihak yang terlibat dalam negosiasi. Orientasi juga dapat mencakup tujuan, harapan, dan sasaran dari negosiasi.

Isi

Bagian ini berisi inti dari negosiasi, yaitu proses tawar-menawar antara pihak-pihak yang berbeda pendapat. Isi juga dapat mencakup argumen, bukti, fakta, data, atau informasi yang mendukung posisi masing-masing pihak. Selain itu, isi juga dapat mencakup strategi, taktik, atau cara-cara yang digunakan oleh pihak-pihak untuk mencapai kesepakatan.

Penutup

Bagian ini berisi hasil akhir dari negosiasi, yaitu kesepakatan yang dicapai oleh pihak-pihak. Penutup juga dapat mencakup evaluasi, implikasi, atau rekomendasi terkait dengan kesepakatan tersebut.

Ciri-Ciri Teks Negosiasi

Teks negosiasi memiliki beberapa ciri-ciri khusus, yaitu:

Menggunakan bahasa formal

Teks negosiasi menggunakan bahasa yang sopan, santun, dan baku. Teks Negosiasi juga menghindari penggunaan bahasa yang kasar, emosional, atau menyerang pihak lain.

Menggunakan kalimat kompleks

Teks negosiasi menggunakan kalimat yang panjang dan rumit untuk menyampaikan ide, gagasan, atau informasi secara detail dan jelas. Teks negosiasi juga menggunakan konjungsi, klausa, atau frasa untuk menghubungkan kalimat-kalimat tersebut.

Menggunakan kata-kata persuasif

Teks negosiasi menggunakan kata-kata yang dapat mempengaruhi, membujuk, atau meyakinkan pihak lain untuk menerima atau menyetujui posisi atau tawaran yang diajukan. Teks negosiasi juga menggunakan kata-kata yang dapat menunjukkan sikap, pendapat, atau perasaan masing-masing pihak.

Menggunakan modalitas

Teks negosiasi menggunakan modalitas untuk mengekspresikan kemungkinan, kemampuan, kewajiban, atau keharusan dari pihak-pihak dalam negosiasi. Modalitas dapat berupa kata kerja bantu, kata depan, kata sifat, atau kata keterangan.

Kaidah Kebahasaan Teks Negosiasi

Berikut adalah beberapa kaidah kebahasaan yang harus diperhatikan dalam menulis teks negosiasi:

Menggunakan bahasa yang formal, sopan, dan santun

Hal ini bertujuan untuk menjaga hubungan baik antara pihak-pihak yang terlibat dalam negosiasi dan menghindari konflik atau kesalahpahaman. Contoh: “Saya menghargai pendapat Anda, tetapi saya memiliki alasan untuk tidak setuju dengan tawaran Anda.”

Menggunakan kalimat yang kompleks dan efektif

Hal ini bertujuan untuk menyampaikan informasi, argumen, atau data secara detail, jelas, dan logis. Kalimat yang kompleks dan efektif juga dapat menunjukkan kemampuan berpikir kritis dan analitis dari penulis. Contoh: “Meskipun mobil Anda masih dalam kondisi baik, saya rasa harga yang Anda minta terlalu tinggi mengingat usia dan pasar mobil bekas saat ini.”

Menggunakan kata-kata yang persuasif dan deklaratif

Hal ini bertujuan untuk mempengaruhi, membujuk, atau meyakinkan pihak lain untuk menerima atau menyetujui posisi atau tawaran yang diajukan. Kata-kata yang persuasif dan deklaratif juga dapat menunjukkan sikap, pendapat, atau perasaan dari penulis. Contoh: “Saya yakin Anda akan puas dengan produk kami, karena produk kami memiliki kualitas dan garansi yang terjamin.”

Menggunakan modalitas dan konjungsi

Hal ini bertujuan untuk mengekspresikan kemungkinan, kemampuan, kewajiban, atau keharusan dari pihak-pihak dalam negosiasi. Modalitas dan konjungsi juga dapat menghubungkan kalimat-kalimat yang berkaitan dalam teks negosiasi. Contoh: “Jika Anda bersedia menurunkan harga menjadi Rp 140 juta, saya siap untuk membeli mobil Anda sekarang juga.”

Contoh Teks Negosiasi

Berikut adalah contoh teks negosiasi antara seorang penjual dan pembeli mobil bekas:

Orientasi

Penjual: Selamat siang, Pak. Saya mau menawarkan mobil bekas saya. Ini adalah mobil Toyota Avanza tahun 2020. Mobil ini masih dalam kondisi baik dan terawat. Saya mau menjualnya karena saya mau pindah ke luar negeri.

Pembeli: Selamat siang, Pak. Saya tertarik dengan mobil Anda. Boleh saya lihat kondisi mobilnya?

Penjual: Tentu saja, Pak. Silakan lihat sendiri. Mobil ini jarang dipakai, hanya untuk antar-jemput anak sekolah. Mesinnya masih halus, tidak ada masalah. Ban, rem, kaca, lampu, semua masih berfungsi dengan baik. Interior dan eksteriornya juga masih bersih dan mulus. Mobil ini juga sudah dilengkapi dengan AC, radio, dan alarm.

Pembeli: Saya lihat mobil Anda memang masih bagus, Pak. Berapa harga yang Anda minta?

Penjual: Saya minta Rp 150 juta, Pak. Harga ini sudah termasuk pajak dan biaya administrasi. Saya rasa harga ini sudah sesuai dengan kualitas dan kondisi mobil ini.

Isi

Pembeli: Wah, harga Anda terlalu tinggi, Pak. Saya lihat di internet, harga mobil sejenis dengan tahun yang sama hanya Rp 120 juta. Apalagi mobil Anda sudah berumur tiga tahun, pasti sudah ada beberapa kerusakan atau keausan.

Penjual: Tidak, Pak. Mobil saya tidak ada kerusakan atau keausan sama sekali. Saya selalu melakukan perawatan rutin dan berkala di bengkel resmi. Saya juga selalu menggunakan bahan bakar yang berkualitas. Mobil saya tidak pernah mengalami kecelakaan atau tabrakan. Saya jamin mobil saya masih seperti baru.

Pembeli: Meskipun begitu, Pak. Harga pasar mobil bekas memang turun setiap tahunnya. Saya rasa harga yang wajar untuk mobil Anda adalah Rp 130 juta. Itu pun sudah termasuk diskon dari saya.

Penjual: Saya tidak bisa menurunkan harga sampai segitu, Pak. Saya sudah rugi banyak jika saya jual dengan harga itu. Saya sudah mengeluarkan biaya yang tidak sedikit untuk merawat dan memelihara mobil ini. Saya juga sudah membayar pajak dan asuransi yang tidak murah.

Pembeli: Bagaimana kalau kita bertemu di tengah, Pak? Saya naikkan sedikit tawaran saya menjadi Rp 135 juta. Anda juga turunkan sedikit harga Anda menjadi Rp 145 juta. Jadi kita sepakat di harga Rp 140 juta. Bagaimana?

Penjual: Hmm, saya pikir-pikir dulu, Pak. Saya harus konsultasi dengan istri saya. Ini adalah mobil keluarga kami, jadi saya tidak bisa sembarangan menjualnya.

Pembeli: Baiklah, Pak. Saya tunggu kabar dari Anda. Tapi saya harap Anda tidak lama-lama, karena saya juga punya pilihan mobil lain yang saya minati. Saya tidak mau kehilangan kesempatan ini.

Penutup

Penjual: Setelah saya bicara dengan istri saya, saya setuju untuk menjual mobil saya dengan harga Rp 140 juta, Pak. Saya rasa ini adalah harga yang adil dan menguntungkan bagi kita berdua.

Pembeli: Terima kasih, Pak. Saya senang kita bisa mencapai kesepakatan. Saya akan segera mengurus proses pembayaran dan pengambilan mobil. Saya harap Anda bisa memberikan semua dokumen dan surat-surat yang diperlukan.

Penjual: Sama-sama, Pak. Saya akan menyiapkan semua dokumen dan surat-surat yang Anda minta. Saya harap Anda puas dengan mobil saya dan bisa menikmati berkendara dengan nyaman dan aman.

Demikianlah contoh teks negosiasi antara seorang penjual dan pembeli mobil bekas. Semoga contoh ini dapat membantu Anda untuk memahami struktur, ciri-ciri, dan cara menulis teks negosiasi. Selamat mencoba!